Monday, April 30, 2012

Waspadai Beredarnya Daging Babi


Dalam sebuah sesi pembinaan penyembelihan hewan sesuai syariat Islam yang digelar Kementerian Agama Provinsi DIY, seorang pemateri dari Majelis Ulama Indonesia menyampaikan hasil pemantauan mereka, banyak dari penjual bakso pinggir jalan yang mencampur bakso dengan daging babi. Hal itu diperkuat dengan fakta dilapangan, jumlah penyembelihan babi setiap harinya ternyata cukup tinggi, padahal mayoritas masyarakatnya muslim. Lalu kemana saja daging itu diedarkan?

Dalam Al Quran jelas dicantumkan, daging babi termasuk haram.
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. …” (QS. Al-Baqarah [2] : 173).



Hewan yang mati tanpa disembelih dikatakan sebagai bangkai. Syariat Islam mengatur cara penyembelihan hewan, tujuan utamanya mengeluarkan darah dari tubuh hewan. Agar tidak tercampur dalam daging. Karena darah banyak mengandung virus dan ‘racun’. Penyembelihan sesuai dengan cara Islam dilakukan dengan memotong urat di leher hewan. Nah, secara anatomi, babi seperti tidak memiliki leher, sehingga sangat sulit untuk menyembelihnya.

Ditemukan pula, kulit orang yang terbiasa memakan daging babi, akan mengeluarkan aroma yang tidak enak.

Penelitian juga menemukan, penduduk di Negara-negara yang banyak mengkonsumsi babi, banyak ditemukan penderita kanker kolon dan anus. Penyakit yang jarang ditemukan di Negara Muslim.

Dalam sebuah artikel yang saya baca di internet. Pada tahun, 1968 sebanyak 700.000 orang tewas karena Virus H5N1. Virus ini kemudian disebut Flu Hongkong. Lalu dari mana Virus H5N1 itu berasal?

Mulanya Virus H5N1 hasil mutasi dari virus Avian Influenza (AI). Normalnya virus AI (strain H1N1 dan H2N1) akan mati bila dipanaskan dalam suhu 60 derajat celcius. Hingga virus ini tidak akan menular langsung ke manusia. Tetapi jika masuk dan hidup dalam tubuh babi, virus tersebut mengalami mutasi dan tingkat virulensinya bisa naik menjadi H5N1.

Para ulama mengatakan, pengharaman Babi mencakup semua anggota tubuh, termasuk minyaknya.

Sejauh mungkin kita harus menjauhinya, sebab Allah Maha Baik, telah menyediakan yang baik-baik, dan hanya menerima yang baik-baik.

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: ” Sesungguhnya Allah baik tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”


Dan firmanNya yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: Yaa Rabbi ! Yaa Rabbi ! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya”. (HR Muslim).

Saturday, April 28, 2012

Mengubah Arus Sungai

Beberapa waktu lalu di derah Dieng, Kabupaten Banjarnegara, terjadi banjir bandang. Banjir yang tidak biasanya sebab daerah tersebut berada di datarang tinggi. Setelah ditelusuri, banjir itu diakibatkan ada tebing yang longsor kemudian menutup jalur sungai. Air yang biasanya melewati sungai membelok dan menerjang pemukiman penduduk. Satu hal yang tak terbayangkan sebelumnya.
Seorang teman pernah mengirimkan pesan lewat FB, intinya begini, Mengubah arus sungai lebih gampang ketimbang mengubah akhlak sesorang. Setelah saya renungkan, kalimat tersebut ada benarnya juga. Meskipun mengubah arus sungai bukan persoalan mudah.
Akhlak bisa dimaknai sebagai perilaku yang telah menjadi kebiasaan. Untuk melakukannya tidak perlu pemikiran lama, bahkan seperti reflek. Ketika kaki terantuk batu, dan mulut berucap spontan, itulah akhlak. Akhlak menjadi perilaku yang tidak bisa dibuat-buat. Seorang bisa saja dalam beberapa hari bersikpa baik, tapi jika akhlaknya memang buruk, pada hari berikutnya akan kembali ke aslinya. Sulit untuk diubah.
Meskipun begitu, akhlak bisa diubah dengan pembiasaan dalam jangka waktu lama, dan tidak lupa memohon kepada Allah agar diberi akhlak yang baik, akhlakul karimah.
"Allahumma hasanta kholqi wa hasin khuluqi."
"Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah rupaku maka perindahlah pula akhlakku." (HR. Ahmad IV/68, 155 dengan isnad shahih. Al-Haitsami berkata dalam Al-Majma', bahwa hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi yang shahih. Dinukil dari komentar Syaikh al-Albani dalam al-Irwa'.)
Rasulullah menjadi cermin dalam kebaikan akhlak, beliau dijamin oleh Allah sebagai orang yang memiliki akhlak baik. Sehingga beliau memang patut diutus untuk membaikan akhlak umat manusia. Itulah tugas utamanya.

Friday, April 27, 2012

Pemilik Tangan Kasar yang Beruntung


Hari ini cuaca masih sedikit mendung, udara panas. Meski begitu semoga tetap tak mengurangi antusiasme dalam beraktifitas.
Untuk note kali ini, saya pilihkan satu bagian dari tulisan dalam buku saya, Bukan Turunan ke-8: Cara Lain Mengubah Nasib Tanpa Duit. Tulisan ini masih berhubungan dengan note beberap waktu lalu: Agar Amal Tak Jadi Buih. Berikut petikannya.
Ada yang membedakan hasil kerja seorang Mukmin dengan orang non-mukmin. Jelas sekali hal itu disebutkan dalam Al Quran.
“Dan amal-amal orang-orang kafir adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapati apa-apa….” (An-Nur: 39)
Dalam ayat lain dikatakan, amalan orang kafir ibarat abu yang dengan mudah diterbangkan angin. Tanpa sisa.
“Permisalan amalan-amalan orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan di dunia. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (Ibrahim: 18)
Maka sebetulnya seorang Mukmin memiliki nilai lebih yang patut untuk menjadi pelecut agar lebih giat dalam bekerja. Mengoptimalkan segala kemampuan yang ada untuk mencapai hasil kerja yang maksimal. Rasulullah dan para sahabat bisa menjadi cermin bagaimana mereka bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup. Mereka tidak menyandarkan pada pemberian orang lain maupun dari baitul maal untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Bahkan Rasul pernah mencium tangan seorang sahabat. Siapakah pemilik telapak tangan kasar yang beruntung itu?
Ialah Sa’ad bin Muadz al Anshari.
Tatkala itu Rasulullah berjumpa Saad bin Mu’az dan bersalaman beliau merasakan telapak tangan Mu’az yang kasar. Rasulullah bertanya apa sebabnya, Mu’az menjawab “Saya membajak tanah untuk keluarga ya Rasulullah”. Mendengar jawaban itu Rasulullah mencium tangan Mu’az dan berkata “Tangan ini tak akan disentuh api neraka”.
Sebuah pernghargaan yang pantas bagi orang yang bekerja keras juga disebutkan dalam sabda Rasulullah yang lain. Hingga kelelahan badan dianggap sebagai tebusan untuk menggugurkan dosa-dosa.
“Barang siapa yg merasa lelah di sore hari karena mencari rizki dgn tangannya, maka akan diampuni dosa dosanya.” (HR Tabrani)

Wednesday, April 25, 2012

Rahasia Kehebatan Besi


Besi merupakan salah satu unsur yang sangat berperan dalam kehidupan manusia. Logam ini telah digunakan oleh manusia sejak zaman pra-sejarah. Dalam kimia besi memiliki simbol Fe atau Ferrum berasal dari kata ‘Iren’ dalam bahasa Anglo-Saxon yang berarti ‘elemen suci’. Pada masa Kaisar Roma Marcus Aurelius dan Commodus diubah dengan nama Ferrum.
Prof. Amstrong atau Mohamed Asadi dari NASA (National Aeronautics and Space Administration) USA, menyatakan terbentuknya unsur besi membutuhkan tenaga yang lebih hebat dari Matahari. Itu artinya besi tidak mungkin terbentuk di bumi. Melainkan berasal dari luar bumi.
Salah satu ayat dalam Al Quran menginformasikan tentang asal besi itu dengan kata ‘anzalna’ yang kemudian diartikan sebagai ‘turun atau diturunkan’.
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (Keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami turunkan besi (al hadiid) yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al Hadiid [57]:25)
Besi memiliki 8 isotop (atom yang memiliki nomor atom yang sama tetapi memiliki nomor massa berbeda), yakni Fe-52, Fe-54, Fe-55, Fe-56, Fe-57, Fe-58, Fe-59, Fe-60. di antara isotop tersebut yang paling stabil adalah isotop Fe-57 yang bisa digunakan untuk proses kimia dan bio kimia. Sama seperti nomor surat Al Hadiid yakni 57. Demikian pula nilai numerik dari huruf-huruf yang menyusun kata Al Hadiid yakni Alif, Lam, Ha, Dal, Ya, Dal = 1 + 30 + 8 + 4 + 10 + 4 = 57
Sekelompok peneliti di Amerika menyatakan bahwa jumlah kata dalam surat Al Hadiid ayat 1 sampai dengan 25 berjumlah 451 kata. Angka tersebut sama seperti penjumlahan simbol ke delapan isotop besi. 52 + 54 + 55 + 56 + 57 + 58 + 59 + 60 =451.

Monday, April 23, 2012

Bahagianya Menjadi Bunda


Untuk catatan kali ini, saya nukilkan dari tulisan dalam buku saya, Merenda Cinta Hingga ke Surga, dalam judul, Bahagianya Menjadi 'Bunda'.
Jahimah As Salami mendatangi Rasulullah Saw. dan berakata, “Wahai Rasulullah, saya ingin mengikuti peperangan.” Nabi bertanya, “Apakah ibumu masih ada?” Ia menjawab, “Ya” Rasulullah berkata, “Layanilah ia karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.” (HR. An Nasai)
Hadits tersebut menunjukan bagaimana mulianya kedudukan seorang ibu. Seorang anak diperintahkan untuk berbakti kepada ibunya. Tanpa itu, mustahil surga akan teraih.




Inti dari hadits itu juga senada dengan perintah penghormatan anak kepada ibunya sebanyak tiga kali lipat sebelum penghormatan kepada seorang ayah. Karena ibu memiliki peran penting dalam kehidupan seorang anak. Sejak di dalam kandungan hingga beranjak dewasa seorang anak memiliki ketergantungan akan peran ibu. Hingga biasanya anak memiliki kedekatan emosional lebih besar kepada ibunya ketimbang kepada ayahnya.
Peran penting ibu tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Mewarnai perilaku dan pembangunan karakter anak. Pada masa selanjutnya semua itu akan mendukung kemampuan untuk meraih keberhasilan. Di sinilah seorang ibu memiliki tanggungjawab untuk mendidik anak-anaknya dengan baik.
Al Quran telah menyajikan dua kisah tentang peran penting seorang ibu dalam mendidik anak.
Pertama, adalah kisah Nabi Musa as. yang semenjak bayi diasuh oleh Asiyah yang merupakan istri Fir’aun, seorang raja yang sangat ingkar kepada Allah. Musa tumbuh dalam lingkungan keluarga kerajaan yang dipenuhi kekafiran. Meski demikian ia dididik langsung oleh Asiyah, wanita yang salehah dan beriman. Pengaruh Asiyah lebih mewarnai perkembangan Musa, ketimbang pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Pada akhirnya nanti Musa menjadi seorang mukmin yang tetap beriman meskipun tumbuh dalam keluarga Fira’un.
Kedua, adalah kisah Kan’an yang tidak lain merupakan putra Nabi Nuh as. Kan’an tumbuh dalam didikan seorang ibu yang kafir. Durhaka kepada Allah dan durhaka kepada suami. Sifat Kan’an pun tidak jauh dari ibunya. Ia membangkang terhadap ajakan Nabi Nuh as. yang menyeru kepada keselamatan. Akhirnya Allah menenggelamkan Kan’an dengan air bah yang meluap melampaui bukit-bukit.
Dua kisah tersebut menjadi gambaran pentingnya peranan seorang ibu untuk mengantar anak-anaknya menjadi pribadi yang beriman, berakhlak baik serta mampu meraih keberhasilan di masa depan.
Bahagialah menjadi bunda!

Siasat Syi'ah


Untuk membicarakan soal ini, saya menyadari tidak memiliki kapasitas yang memadai. Saya hanya ingin berbagi, tersebab perbincangan dengan seorang teman, yang saya tahu pemahaman dan pengamalan agamanya bagus. Kandidat doktor dari universitas ternama. Ketika berbincang soal syi'ah ternyata ada persepsi yang berbeda, bagi beliau syi'ah hanya berbeda dalam kita memahami. Jujur pernyataan yang membuat saya cukup kaget.
Saya memahami beberapa tokoh agama, Kyai dan 'ulama memang memberikan pernyataan yang membiaskan persoalan syi'ah. Mereka punya posisi sebagai pimpinan ormas, tidak heran jika kemudian sebagian pengikut ormas terkesan 'taklid' dengan meninggalkan tabayun atas kejadian sesungguhnya.
Karena kemampuan saya yang terbatas, maka saya kutipkan fatwa MUI tentang kemestian umat Islam mewaspadai syi'ah, informasi ini saya dapatkan dari situs www.republika.co.id
MUI mengeluarkan rekomendasi tentang paham syi'ah, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang digelar bulan Maret 1984, berdasarkan Rakernas tersebut, MUI menetapkan beberapa rekomendasi, di antaranya:

1) Syiah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak membeda-bedakan—asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu Musthalah Hadist.
2) Syiah memandang "imam" itu maksum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
3) Syiah tidak mengakui ijma' tanpa adanya "imam", sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah mengakui ijma' tanpa mensyaratkan ikut sertanya "imam".
4) Syiah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jamaah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan ke-imamahan-an adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.
5) Syiah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, dan Utsman bin Affan. Sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah mengakui keempat Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib).
Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syiah dan Ahlus Sunnah wal Jamaah seperti disebutkan di atas—terutama mengenai perbedaan tentang "imamah" (pemerintahan), MUI mengimbau umat Islam Indonesia yang berpaham Ahlus Sunnah wal Jamaah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajaran Syiah.
Rekomendai tersebut ditetapkan di Jakarta pada tanggal 4 Maret 1984 M/4 Jumadil Akhir 1404 H dan ditandatangani oleh Komisi Fatwa MUI, Ketua Prof KH Ibrahim Hosen, LMI dan Sekretaris H Musytari Yusuf, LA.
Dalam menyebarkan pahamnya, syi'ah seringkali menggunakan siasat yang mengecoh umat Islam, mereka menyebarkan ajarannya lewat buku, website, yayasan pendidikan dan lainnya. Segala upaya dilakukan, karena mereka menganggap yang di luar golongannya adalah orang kafir.
Iran adalah penyokong utama perkembangan paham Syi'ah.

Friday, April 20, 2012

Mengubah Arus Sungai Lebih Gampang Ketimbang Mengubah Akhlak

Beberapa waktu lalu di derah Dieng, Kabupaten Banjarnegara, terjadi banjir bandang. Banjir yang tidak biasanya sebab daerah tersebut berada di datarang tinggi. Setelah ditelusuri, banjir itu diakibatkan ada tebing yang longsor kemudian menutup jalur sungai. Air yang biasanya melewati sungai membelok dan menerjang pemukiman penduduk. Satu hal yang tak terbayangkan sebelumnya.



Seorang teman pernah mengirimkan pesan lewat FB, intinya begini, Mengubah arus sungai lebih gampang ketimbang mengubah akhlak sesorang. Setelah saya renungkan, kalimat tersebut ada benarnya juga. Meskipun mengubah arus sungai bukan persoalan mudah.

Akhlak bisa dimaknai sebagai perilaku yang telah menjadi kebiasaan. Untuk melakukannya tidak perlu pemikiran lama, bahkan seperti reflek. Ketika kaki terantuk batu, dan mulut berucap spontan, itulah akhlak. Akhlak menjadi perilaku yang tidak bisa dibuat-buat. Seorang bisa saja dalam beberapa hari bersikpa baik, tapi jika akhlaknya memang buruk, pada hari berikutnya akan kembali ke aslinya. Sulit untuk diubah.

Meskipun begitu, akhlak bisa diubah dengan pembiasaan dalam jangka waktu lama, dan tidak lupa memohon kepada Allah agar diberi akhlak yang baik, akhlakul karimah.

"Allahumma hasanta kholqi wa hasin khuluqi.”
"Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah rupaku maka perindahlah pula akhlakku." (HR. Ahmad IV/68, 155 dengan isnad shahih. Al-Haitsami berkata dalam Al-Majma', bahwa hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi yang shahih. Dinukil dari komentar Syaikh al-Albani dalam al-Irwa'.)

Rasulullah menjadi cermin dalam kebaikan akhlak, beliau dijamin oleh Allah sebagai orang yang memiliki akhlak baik. Sehingga beliau memang patut diutus untuk membaikan akhlak umat manusia. Itulah tugas utamanya.

Wednesday, April 18, 2012

Sisi Unik Al Quran

Tahun 2002, sebagai mahasiswa baru di sebuah Universitas Islam Negeri, saya patut merasa minder. Dengan latar belakang pendidikan SMK Mesin Otomotif, di antara para alumni pondok pesantren dan aliyah dari seluruh pelosok negeri. Ilmu agama saya tak ada apa-apanya. Semester awal saya mencoba aktif, dan hasilnya cukup memuaskan, IP di atas 3.
Tapi yang akan selalu teringat ialah ketika seorang dosen mengetengahkan pernyataan bahwa Al Quran itu hasil budaya manusia. Pernyataan yang cukup kontroversial bagi saya, saya lupa dengan keterbatasan saya, saya pun mendebat habis dosen itu. Saya tidak ingat betul, bagaimana respon teman-teman sekelas.
Pada akhirnya saya tahu, UIN ternyata menjadi salah satu pintu masuk beredarnya paham sekularisme dan pelemahan akidah umat Islam. Nah.
Mengapa Al Quran digugat? Para pakar teologi barat, telah lama dan telah terbiasa menggugat kitab suci mereka sendiri, yakni injil. Mereka memberikan kritikan dari berbagai segi. Nampaknya hal serupa juga ingin dilakukan terhadap Al Quran oleh para orientalis. Suatu upaya yang tentu akan sia-sia. Sebab Allah telah menjamin keterjagaan Al Quran hingga akhir zaman.
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Al Hijr [15]: 9)
Sayangya sebagian tokoh Islam juga termakan propaganda barat. Maka lahirlah pernyataan-pernyataan seperti dosen saya di atas.
Bagi orang awam, untuk mengetahui sisi unik Al Quran yang tidak dimiliki kitab lain manapun bisa dilogika dengan mudah.
Jika kita mengumpulkan 5 orang anak dari 5 benua yang berbeda, yang kesemuanya hafal surat Al Fatihah, mintalah mereka membacanya. Maka akan kita dengarkan bacaan yang sama!
Begitulah, salah satu contoh gampang untuk mengetahui bahwa Al Quran di manapun sama. Tetap terjaga. Surat Al Fatihah yang dibaca di samping Ka'bah, sama dengan surat Al Fatihah yang ada di jantung kapitalisme dunia, New York. Surat Al Fatihah yang ada di Tanjung Harapan ujung selatan Afrika, sama dengan surat Al Fatihah di kutub utara.
Inilah sisi unik Al Quran!

Tuesday, April 17, 2012

Memulai Pekerjaan dari Kanan

Setelah kemarin seharian tanpa hujan, nampaknya hari ini kembali datang. Beberapa tahun terakhir kerap kita dengar para motivator dan ahli menandaskan betapa pentingnya otak kanan. Katanya, pendidikan di negeri ini lebih mengutamakan pemaksimalan otak kiri ketimbang otak kanan, jadilah negara ini terus berkembang. Tapi tak maju-maju. Di sini kita bisa melihat betapa pentingnya otak kanan. Kanan.



Sebagai anak dusun yang di sekitar rumah banyak kebun, dengan berbagai tanamannya, saya tak juga tahu tentang sebuah fitrah alam yang tersaji. Sampai suatu saat saya mendapat informasi dan membuktikannya sendiri. Tanaman merambat yang berduri merambat dengan arah putaran ke kiri. Sedangnkan tanaman merambat yang tidak berduri, seperti kacang panjang, pare, dan sejenisnya, merambat dengan arah putaran ke kanan. Kanan.

Ketika melangkah ke tempat kebaikan, seorang muslim dianjurkan memualainya dengan kaki kanan. Memakai baju, membersihkan badan, dan melakukan kebaikan lainnya diperintahkan dari kanan. Termasuk makan, harus dengan tangan kanan. Kanan.

Begitupun dalam mengedarkan makanan atau minuman, disunnahkan mendahulukan yang di sebelah kanan.

Hadis riwayat Anas bin Malik ra. "Bahwa Rasulullah saw. ketika dibawakan susu yang dicampur dengan air, di kanan beliau terdapat seorang badui sedangkan di kiri beliau adalah Abu Bakar. Beliau pun minum kemudian memberikannya kepada orang badui seraya bersabda: Gilirlah ke kanan lalu ke kanannya lagi. (Shahih Muslim No.3783)

Beberapa hari yang lalu, saya membaca tulisan dalam FB, tentang membaca. Membaca yang mendatangkan banyak kemanfaatan. Bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Membaca, tulisan yang di awali dari kanan. Membaca dari kanan ke kiri, bukan dari kiri ke kanan. Itulah Al Quran.

Begitulah semestinya sebagai muslim, banyak-banyak mengerjakan amal yang dimulai dari kanan. Memulai kerja dengan kanan berarti memulainya dengan visi jauh ke depan. Mengutamakan yang kekal ketimbang yang sementara.

Monday, April 16, 2012

Berita-berita Beracun

“Seteguk racun tikus mungkin akan mematikan satu jasad. Tapi sebuah berita beracun dapat menghancurkan satu peradaban.” _ESP

Senang sekali malam ini, saya bisa menjumpai lagi kawan-kawan Remassa (remaja masjid sabilul muttaqin) setelah sekian lama tak bersua. Alhamdulillah, peserta kajiannya tetap terjaga. Dalam kajian tadi kami membahas satu pokok bahasan, Cerdas Bermedia, sebab saya melihat banyak media yang mengabaikan realitas dengan meninggalkan cover both side (pemberitaan berimbang). Ditambah media-media saat ini yang kebanyakan dikuasai oleh arus sekuler, kepentingan umat Islam menjadi tersisih. Tidak sedikit berita yang memojokkan dan merugikan umat Islam.



Dengan kenyataan semacam ini, saya teringat dengan satu ayat yang memerintahkan agar setiap muslim selektif dalam menerima berita.
"Wahai orang-orang yang Beriman, apabila datang seorang fasiq dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan." (QS. Al-Hujurat: 6)

Contoh nyata penggunaan kata teroris yang jelas dialamatkan kepada umat Islam. Saat banyak anggota Polri dan TNI tewas dalam serangkaian penembakan di Papua, maka dikatakan itu ulah, gerakan pengacau keamanan, bukan teroris. Namun jika ada seorang muslim saja yang meledakan bom, meski tanpa memakan korban jiwa, sudah dikatakan teroris. Sungguh ironis!

Saat ini, media begitu antusias meliput demo-demo pembubaran FPI, dengan berbagai dalih tak logis. Sementara kiprah FPI dalam membantu korban tsunami di Aceh, Merapi di Yogya, atau kasus Mesuji di Lampung, tak pernah diberitakan. Begitupun pembakaran yang dilakukan para preman terhadap kediaman tokoh pendukung FPI di Kalimantan, seperti tak terendus media.

Maka sangat perlu kita selektif menerima berita, melakukan tabayun adalah salah satu caranya. Bisa juga dengan mencari berita pembanding dari media-media Islam seperti: www.voa-islam.com, www.eramuslim.com, www.hidayatullah.com, www.republika.co.id, www.suara-islam.com dan sebagainya.

Dengan bermedia secara cerdas, kita akan melihat realitas dengan lebih jelas.

Sunday, April 15, 2012

Ketika Film Menghipnotis Kita

Film menjadi salah satu dari sekian 'F' yang digunakan untuk menyebarkan kerusakan moral di seluruh dunia. Selain, Food, Fashion, Fun, Fund, Faith, Free sex, Free thinking, dan jika tidak hati-hati juga Facebook!




Note ini saya buat, karena sejatinya saya merasa tertipu dengan sebuah film yang kemudian menjadi nama akun fb saya, Sang Pencerah. Saya baru tahu dari berita online ternyata bahwa pemeran KH Ahmad Dahlan dalam film itu ternyata seorang yang lemah dalam memegang akidah, ada kabar ia menikahi seorang non muslim, kabar lainnya lebih mengejutkan, ia seorang murtadin. Begitu yang saya baca dari blog.

Jika itu benar tentu ini sangat mengecewakan bahkan menyakitkan. Satu lagi, film yang saya kagum, Laskar Pelangi, anehnya tokoh Bu Muslimah yang terhormat diperankn oleh artis yang dalam peran dan kesehariannya mengalami keterbatasan kain dalam berpakaian. Belum lagi film (penuh) tanda tanya, '?' yang secara kasat mata melecehkan Islam, sebagai ciri film-film garapan Bung 'H'. Sutradara yang sejak awal termasuk tidak saya sukai.

Tulisan ini mungkin terkesan tendensius dan subyektif, tapi biarlah begitu. Film menjadi sarana yang efektif untuk menebarkan suatau pemikiran. Mampu menghipnotis banyak orang tanpa sadar mereka telah dibodohi.

Lihat saja bagaimana Amerika berusaha menampilkan kehebatan semu mereka lewat tokoh Rambo yang menjadi pahlawan perang Vietnam, padahal sejarah mencatat, dalam peperangan itu Amerika mengalami kekalahan yang memalukan.

Begitulah film menghipnotis kita.

Saturday, April 14, 2012

Rumah Tanpa Hutang

Jika dirasakan, judul di atas mirip dengan judul Cerita/Film, 'Rumah Tanpa Jendela'. Yang tersebut di atas merupakan judul buku yang saya temukan ketika berkunjung ke www.sabili.co.id. Saya belum tahu isinya tetapi cukup menarik, pikir saya. Ketika banyak motivator bisnis menganjurkan untuk tidak takut berhutang, di sisi lain dunia perbankan terus berlomba menawarkan banyak kemudahan untuk memperoleh kredit. Dari yang bersuku bunga rendah hingga yang berhadiah rumah. Godaan hutang selalu saja menantang!




Behutang memang tidak hanya dilakukan orang saat ini, melainkan sejak lama. Bahkan Rasulullah dan para sahabat juga pernah memiliki hutang. Bedanya, mungkin, mereka berhutang untuk mencukupi kebutuhan pokok, karena sebagian harta telah diinfakkan untuk perjuangan Islam. Sedang sekarang, terkadang orang berhutang untuk memenuhi kebutuhan tidak penting atau sekedar memuaskan keinginan.

Di balik manfaatnya, berhutang ternyata menyimpan sisi-sisi buruk.
Pertama, berhutang bisa membuat seorang menjadi banyak dusta.
Dari ‘Urwah dari ‘Aisyah, "Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa di dalam shalat, 'Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghram (Ya Allah, aku berlindung kepad-Mu dari berbuat dosa dan banyak utang).'” Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari utang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Jika orang yang berutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (H.R. Bukhari, no. 2397 dan Muslim, no. 589)
Kedua, akan memberatkan di akhirat jika tidak dilunasi.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham, utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (H.R. Ibnu Majah, no. 2414; Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)
Melunasi hutang termasuk di antara sekian hal yang diperintahkan untuk segera dilaksanakan bila telah mampu. Selain menikah dan menguburkan jenazah.
Salah satu doa yang diucapkan Rasulullah ialah meminta perlindugan dari dosa dan banyak hutang.
"Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghram (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari perbuatan dosa dan banyak utang)." (H.R. Bukhari, no. 2397 dan Muslim, no. 589).
Tulisan ini saya buat dengan referensi utama dari situs: pengusahamuslim.com

Friday, April 13, 2012

Perampok Berseragam

Hari-hari ini kita dikejutkan dengan kasus Gayus episode dua. Seorang pegawai negeri sipil, dirjen pajak yang sudah dapat gaji rutin setiap bulan meskipun tak bekerja, dan juga memperoleh remunirasi. Masih juga doyan mengembat uang pajak hingga milyaran rupiah. Rakyat digembar-gemborkan untuk taat pajak, sementara uangnya dikorupsi pegawainya sendiri. Tentu semakin menambah daftar panjang ironisme negeri ini.




Kata perampok bisa jadi terasa kasar, namun demikian kekasaran penyebutan itu belum sebanding dengan akibat kelakuan mereka yang merugikan negara. Mereka lebih jahat dari penjahat tak berseragam dengan beberapa alasan yang saya rasakan.

Pertama, jika perampok non-seragam merampok karena mereka kekurangan, dan untuk mencukupi kebutuhan hidup, perampok berseragam merampok untuk memenuhi keinginan atau menuntaskan kepuasan mereka.

'Laki-laki yang mencuri dan peempuan yang mencuri, potonglah kedua tangannya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Allah Maha Perkasan dan Maha Bijaksana' (Q.S. Al Maidah (5) : 38 ).

Kedua, perampok non-seragam tak dapat gaji bulanan dari negara, sedang perampok berseragam mendapat gaji rutin dari uang rakyat.

Ketiga, perampok non-seragam tidak melanggar sumpah, sebab mereka memang tak pernah disumpah oleh negara, sedang perampok berseragam mereka menodai sumpah yang pernah terucap.

Keempat, perampok non-seragam biasanya hanya merampok dalam skala kecil dan cuman sekal- dua kali. Sedang perampok berseragam bisa merampok hingga milyaran rupiah dan berkali-kali.

Kelima, perampok non-seragam biasanya menunduk ketika ditangkap dan dipenjara, sedang perampok berseragam akan tetap tersenyum dan seolah tak bersalah. Menyebalkan.

Keenam, pengadilan seringkali memberikan hukuman berat kepada perampok non-seragam karena tahu mereka tak punya kuasa untuk membela diri, sedang perampok berseragam dihukum ringan jika tidak dibebaskan.

Pengadilan yang kadang terasa tidak adil, kontras dengan prinsip Rasulullah yang akan menghukum siapapun yang bersalah, sesuai hukum yang ditentukan tanpa pilih kasih.

'Demi Allah! Kalau sekiranya Fatimah binti Muhammad yang mencuri, pasti akan kupotong tangannya.' (Riwayat Bukhari)

Berhati-hatilah karena perampok berseragam itu bisa ada di mana-mana, di dalam kantor, di dalam gedung, di tempat pembuangan sampah, di dalam stadion, di jalan-jalan, di wc umum, di lokasi pembangunan jalan aspal, dan di tempat lain yang sebelumnya mungkin tak terduga.

Berhati-hatilah, apalagi saat tanggal tua!

Thursday, April 12, 2012

Ayat Al Quran yang Dikagumi Yahudi

Bagi kaum Muslim, mengagumi Al Quran barangkali menjadi hal yang biasa. Apalagi dengan penemuan-penemuan terakhir dari para ilmuwan yang kian mengokohkan kebenaran Al Quran. Di antaranya, bulan yang pernah terbelah, adanya sungai bawah laut hingga penemuan jejak arkeologi kaum-kaum terdahulu. Memang semua tidak disebutkan, karena Al Quran menerangkan hanya sebagian dari kisah kaum terdahulu yang akan ditampakkan bekas-bekasnya.



“Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah." (QS. Huud, 11: 100)

Ternyata, bukan hanya kaum Muslimin dan ilmuwan berakal saja yang mengagumi Al Quran, sebagai kitab yang tetap terjaga kesahihannya. Bahkan sejak dulu kaum Yahudi juga mengagumi Al Quran. Dalam sebuah riwayat dikisahkan perbincangan antara 'Umar bin Khattab dan Yahudi.

Dari Thariq bin Syihab, ia mengatakan bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Umar bin Khatab:
"Kalian membaca sebuah ayat dalam Kitab (al-Qur'an) kalian. Sungguh apabila ayat itu turun kepada kami bangsa Yahudi, tentu hari turunnya ayat itu akan kami jadikan sebagai hari raya."
Umar bertanya: "Ayat yang mana ?"
Mereka menjawab, "Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku untukmu." (al-Maidah: 3)
Umar berkata, "Demi Allah, sesungguhnya aku betul-betul mengetahui hari apa ayat itu turun kepada Rasullulah dan saat apa ayat itu turun. Ayat itu turun kepada Rasullulah pada sore hari hari Arafah, hari Jum'at."

Percakapan di atas juga menegaskan, semestinya seorang muslim, bangga dengan keislamannya, sebab Allah telah menjamin kesempurnaan islam. Dengan kebenaran dan kesempurnaan Islam, seorang muslim tidak perlu lagi bingung mencari sistem yang lebih baik ketimbang Islam.

Imam Thabrani telah mengeluarkan riwayat hadits dari Abu Dzar al-Ghifari yang menyatakan, "Rasulullah telah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burungpun yang mengepakkan sayapnya di udara melainkan beliau telah menyebutkan ilmu kepada kami setiap kali kepakan sayap burung itu."

Dengan kebenaran dan kesempurnaan Islam, dunia pernah merasakan buahnya kurang lebih seribu tahun, sejak Rasulullah hingga kekhilafahan Turki Ustmani pecah pada tahun 1924 Masehi.

Jika orang Yahudi saja bisa berkata seperti itu, apakah sebagai muslim kita tidak bangga dengan Islam?

Kisah-Kasih Sepanjang Galah

Jika kau patuh pada kekasihmu
Lebih patuhlah pada ibumu
- Rhoma Irama -

Pepatah mengatakan, "Kasih Anak Sepanjang Galah, Kasih Ibu Sepanjang Masa". Kasih sayang anak kepada orang tua sepanjang galah yang bisa diukur, sedang kasih sayang orang tua tak pernah ada habisnya.




Islam memberikan tuntunan yang jelas tentang berbati kepada orang tua, terutama ibu, ibu, ibu kemudian ayah. Untuk note kali ini, saya kutipkan beberapa hadits dan riwayat berkaitan dengan hal tersebut.

Berbakti kepada orang tua termasuk amal yang paling dicintai Allah,
Dalam hadits lain disebutkan ,Abdullah ibnu Mas’ud ra berkata: „Aku bertanya kepada Rasulullah saw. : "Amal perbuatan apakah yang paling disukai Allah ?" Rasulullah saw. Menjawab : "Shalat pada waktunya". Aku bertanya kembali "Kemudian apa lagi ? :"Berbaktilah pada kedua orang tua „. Aku bertanya lagi :"Kemudian apa lagi ? Rasulullah saw. Menjawab : "Berjihadlah di jalan Allah". (HR. Imam Bukhari)

Cara berbakti banyak ragamnya, di antaranya dengan mengasihi dan merawat mereka ketika masih hidup, mendoakan ketika telah meninggal. Bisa juga dengan menyambungkan silaturahim dengan keluarga dan sahabatnya.

Pahala berbakti tidak terputus dengan matinya kedua Orangtua. Dalam suatu hadits dikatakan, “Tatkala kami sedang duduk di hadapan Rasulullah saw. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan Bani Salamah. Lelaki itu bertanya:"Wahai Rasulullah, apakah baktiku terhadap kedua orangtuaku masih tetap ada (pahalanya), jika kulakukan sesuatu sebagai baktiku terhadap mereka berdua sesudah mereka tiada?". Rasulullah menjawab :"Ya, masih ada, yaitu mendo’akan dan memohonkan ampunan untuk mereka, menunaikan pesan-pesannya, dan mengadakan silaturrahmi kepada orang-orang yang selalu dihubungi oleh kedua orang tuanya, serta memuliakan kawan-kawan dekat mereka. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah)

Dan kisah lainnya yang menceritakan, bahwa pada suatu hari khalifah 'Umar ra. kedatangan seorang lelaki. Lelaki itu berkata kepada sang khalifah: "Sesungguhnya aku mengurusi ibuku sebagaimana ia mengurusiku semasa aku masih kecil. Apakah dengan demikian berarti saya telah menunaikan kewajibanku terhadapnya?". Khalifah 'Umar ra. menjawab: "Tidak". Lelaki itu kembali bertanya: "Mengapa demikian". Khalifah 'Umar ra. menjawab: "Sesungguhnya ibumu mengurusi dirimu dengan harapan agar engkau hidup, sedangkan engkau negurusi dia dan engkau mengharapkan kematiannya.

Demikianlah Islam memuliakan kedudukan orangtua dihadapan anaknya. ‘Abdullah ibnu Umar telah menceritakan suatu riwayat bahwasanya Rasulullah saw. Pernah bersabda : "Keridhoan Rabb terletak pada keridhoan kedua orangtua, dan kemurkaan Rabb terletak pada kemurkaan kedua orangtua". (HR. Turmudzi ).

Mari belajar untuk terus berbakti kepada orang tua.

Khalifah 'Umar dan Mahar

“Wahai Amirul mu’minin, apakah yang wajib kita ikuti itu Kitab Allah ataukah ucapanmu?” seorang wanita dengan penuh keberanian melontarkan pertanyaan kepada Khalifah Umar yang baru selesai berkhutbah. Wanita itu menanggapi pernyataan Umar yang melarang memahalkan mahar. Umar membatasi mahar tidak boleh lebih dari 12 uqiyah atau setara 50 dirham. Seraya menyatakan, “Sesungguhnya kalau ada seseorang yang memberikan atau diberi mahar lebih banyak dari mahar yang diberikan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pastilah aku ambil kelebihannya untuk baitul mal.”




Muslimah pemberani itu pun kemudian mengutip ayat Allah, “Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain , sedang kamu Telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?” (QS : an-Nisa’ [4]:20)

Khalifah Umar menyadari kekhilafannya, kemudian dengan tanpa merasa malu, ia membenarkan ucapan wanita itu dan mengakui kesalahannya. “Wanita ini benar dan Umar salah,” ucapnya di depan banyak orang.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini. Setidaknya ada tiga. Pertama, betapa Islam mengakomodasi peran perempuan. Mereka punya kesetaraan untuk mengungkapkan pendapat. Kedua, sebagai khalifah, Umar telah mencontohkan sikap legawa pemimpin dalam menerima kritikan dari rakyatnya. Umar jujur mengakui kebenaran ucapan perempuan itu meski di depan orang banyak, tanpa merasa gengsi. Ketiga, sebagai rakyat, perempuan itu merasa punya tanggungjawab meluruskan ketika pemimpinnya bersikap keliru. Dan inilah dakwah yang paling berat, menegur penguasa yang salah.

Rasulullah SAW pernah bersabda “Jihad yang utama adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa zalim.” (At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Wednesday, April 11, 2012

Kaya Hati Perlu, Kaya Materi Juga Perlu

Sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka mencintai kemewahan dunia, harta benda yang melimpah, kendaraan yang mengkilap dan rumah megah. Semua itu telah menjadi ketetapan Allah sebagaimana tertulis dalam Alquran, artinya,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali_’Imran [3]: 14)




Maka jangan marah jika Antum ditolak gadis atau calon mertua gara-gara dana yang tidak mencukupi. Kebahagiaan memang tidak bisa ditentukan oleh banyak sedikitnya harta yang dimilki. Namun umumnya orang beranggapan bahwa semakin banyak harta yang dimiliki maka kehidupannya akan semakin terjamin. Bahkan tidak sedikit yang menilai seseorang dari kekayaannya sehingga mereka mendapat posisi khusus dalam masyarakat dan keitimewaan-keistimewaan tertentu.

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Sahl bin Sa’ad dikisahkan, suatu hari Nabi duduk bersama para sahabat dalam sebuah majlis, lalu lewatlah seorang lelaki. Beliau bertanya, “Kau pasti tau tentang orang itu?” Seorang sahabat menjawab, “Dia adalah seorang ningrat yang disegani di mata umumnya masyarakat, sungguh jika ia meminang seorang gadis/wanita besar harapan diterimanya, atau jika ia mengajukan usul untuk orang lain tentang suatu hal, pasti diterimanya.” Dengan tenang Nabi memperhtaikan jawaban itu, selang beberpa saat lewatlah seorang pria lain dan Nabi bertanya, “Kau pasti tau tentang orang ini?” “Orang ini sangat miskin, pantaslah berulangkali meminang gadis/wanita misalnya selalu ditolak, apalagi untuk membantu keperluan orang lain, jelas tiada perhatian/tanggapan positif dari umumnya masyarakat,” jawab seorang sahabat. Kemudian Nabi bersabda, “Orang ini lebih baik dan berharga dibandingkan dengan bumi sepenuh isinya termasuk orang pertama yang lewat tadi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Begitulah realitas dunia, seringkali manusia hanya menilai secara lahiriah saja. Kekayaan menjadi standar untuk melihat tinggi rendahnya status seseorang. Kecenderungan yang demikian telah melahirkan sekat-sekat yang membatasi pergaulan. Orang yang kaya merasa enggan bila harus bergaul dengan kaum miskin. Semua itu karena dianggap dapat menurunkan kewibawaan mereka.